Stopover Umrah

Bagi siapapun yang melakukan perjalanan lintas eropa ke asia akan selalu memiliki kesempatan transit di area timur tengah seperti di kota-kota Dubai, Doha, Muscat, atau bahkan Istanbul

Beberapa maskapai yang sering menjadi pilihan karena bertarif kompetitif dalam melakukan perjalanan lintas Eropa-Asia selain dari Turkish air adalah maskapai dari Timur Tengah, seperti Emirates, Saudia, dan Ejtihat.

Dari hasil pencarian penerbangan terjangkau dari Jerman ke Indonesia pp. pada Summer 2025, kami menjatuhkan pilihan untuk menggunakan maskapai Saudia. Penerbangan dilakukan dari Munich, Jerman ke Jakarta, Indonesia dan transit di Jeddah, Saudi Arabia. Pada perjalanan kembali ke Jerman, kami mendapatkan waktu transit hingga 10 jam (mungkin karena ini jadi murah tiketnya ya :D).

“Pakai buat Umrah!” itu pikiran yang pertama terlintas begiu mengetahui 10 jam waktu transit tersebut. Tapi bagaimana caranya? Pertanyaan-pertanyaan susulan yang kemudian menjadi agenda perencanaan perjalanan adalah: “Bagaimana melengkapi rukun terutama niat ihram (ihlal ihram) bila landing di Jeddah?”, “Buat visanya bagaimana?”, “Kita ber-empat punya bagasi cabin – buat membawa kain ihram – tapi di tempat umrah tidak boleh dibawa?” pertanyaan lainnya “Jeddah – Mekah pp. pakai apa yang murah dan hemat waktu?”, belum lagi ditambah pertanyaan bonus “bisa gak ya membeli dan membawa air zam-zam dengan posisi kita sudah check-in dan menelesaikan baggage drop di Jakarta?”.

“Aah sudahlah, kita susun itu nanti.. Insya Allah akan ada dan ketemu cara dan jalannya.”

Dan benar.. karena izin Allah satu-persatu informasi dan kelengkapan untuk umrah bisa kita selesaikan.

Tentang Visa

Untuk kami yang memiliki passpor Indonesia dan residence permit Jerman, kami tidak bisa mengurus langsung melalui portal e-Visa milik pemerintah Saudi (https://visa.visitsaudi.com). Ini karena di laman pertama registrasi visa, saat menyatakan paspor sudah tidak terdapat nama negara Indonesia dalam daftar tersebut.

Setelah mencari sana-sini, kami menemukan cara untuk bisa mengurus visa transit atau Apply for the stopover visa dari website Saudia. Normalnya bila pembelian tiket dilakukan melalui website Saudia.com pembuatan stopover visa dilakukan bersamaan saat pemesanan tiket pesawat. Namun, dalam kasus kami, kami tidak membeli tiket melalui Saudia.com. Dengan semangat ‘mahasiswa harus dapat yang murah’ kami mendapatkan tiket Jerman-Indonesia pp. di musim liburan dengan harga 50%-60% rata-rata di semua maskapai. Artinya, sudah dapat diskon hingga 50%, dapat peluang Umroh pula :D. Kill two birds with One stone!

Berburu stopover visa dari lama saudia.com dengan posisi sudah memegang tiket ternyata cukup membingungkan. Namun setelah explorasi beberapa waktu akhirnya ketemu juga menu yang dimaksud di laman web tersebut setelah melakukan web check-in.

Syarat yang dibutuhkan adalah nomor passport, nomor residence permit (Jerman), dan foto  200 x 200 px dengan ukuran maksimum 20 KB. Setelah itu pembayaran visa dilakukan melalui web dengan pilihan menggunakan kartu debit. Setelah pembayaran, berselang 5 menit kemudian, visa berdurasi 4 hari akan muncul di email.

Ihlal Ihram

Karena niat berangkat dari Jakarta ke JEddah adalah langsung umrah, maka ihlal ihram dilakukan di pesawat dengan posisi miqot di atas area Yalamlam. Crew pesawat Saudia memberikan pengumuman 30 menit sebelum sampai titik miqot. Meski tidak terlalu akurat, estimasi sampai di miqot ini juga tesedia di layar tv individual pada bangku pesawat setiap penumpang.

Dalam kasus kami 30 menit ini adalah waktu yang cukup, mengingat dari seluruh penumpang pesawat, hanya terdapat 8 orang pria yang akan berihram di pesawat. Namun bila dirasa kurang karena kondisi tertentu, maka bisa diperkirakan posisi miqot kurang lebih sekitar 1.5 jam sebelum pesawat landing. Dengan perkiraan ini, raanya sudah bisa kita mengatur waktu yang tepat untuk ber-ihram dengan melengkapi semua rukunnya, seperti menanggalkan semua pakaian berjait kecuali kain ihram itu sendiri, melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal sesuai ketentuan, dan lainnya.

Bagasi simpan dimana?

Bagasi kabin yang kami bawa dari pesawat tentu saja tidak bisa kami boyong ke Mekah saat  berumroh. Pasti akan merepotkan dan tidak diperbolehkan masuk ke Masjidil Haram oleh Laskar Penjaga. Karenanya, kami perlu titipkan di Bandara Jeddah. Lokasinya berada pada area ke arah kereta cepat Harramain.

Kami menitipkan beberapa barang-barang disana dengan biaya 17 SAR per 5 jam per item. Pada kenyataannya harus menambah 4 SAR karena kami sampai 7 jam menitipkan barang.

Jeddah – Mekah pp.

Setelah meninjau dan seterusnya, menimbang dan seterusnya, kami memutuskan perjalanan Jeddah – Mekah, pun sebaliknya, untuk menggunakan taksi online, yakni Uber, berbiaya 100 SAR, sekitar 25€, dengan pembayaran menggunakan ApplePay. Perjalanan ke Mekah membutuhkan waktu sekitar 1.5 jam hingga ke Masjidil Haram.

Sampai di Masjidil Haram, prosesi Umrah pun berjalan. Perhatikan lagi rukun Umrah.

Total waktu yang kami butuhkan untuk menyelesaikan Umrah dan Shalat Shubuh berjamaah di Masjidil Haram hingga keluar dari Masjidil Haram sekitar 4 jam.

Setelah membeli sarapan dari beberapa emak-emak asal Indonesia yang berjualan di sekitar tower zam-zam, kami memesan kembali taksi online ke Bandara Jeddah.

Membawa Galon Zam-zam

Sesampai di Bandara, kami melihat kios tempat membeli galon air zam-zam berukuran 5 liter. Galon yang bisa ditebus dengan harga 12 SAR tersebut kami bawa ke counter check-in Saudia. Kami sampaikan kalau kami sudah checked-in di Jakarta dan kini akan membawa Zam-zam ke Jerman. Petugas counter yang memeriksa boarding pass kami kemudian mengijinkan dengan memberikan label bagasi baru untuk 4 dus galon zam-zam yang kami bawa.

Setelah menunggu beberapa saat, pejalanan kami lanjutkan ke Jerman untuk berjuang kembali meraih mimpi dan goal kehidupan.. insya Allah.